Eka Tjipta Widjaja : Profil & Biodata

Loading...

Nama : Eka Tjipta Widjaja
Peringkat : Orang terkaya ke 2 di Indonesia
Usia : 90 Tahun
Sumber Kekayaan : kelapa sawit, Sinar Mas Group, Perbankan, dll
Total Kekayaan : $7 B per November 2013
Residen : Jakarta, Indonesia

Eka Tjipta Widjaja adalah seorang pengusaha dan konglomerat di Indonesia, berkat kegigihan manajemen di perusahaan, ia adalah salah satu orang yang paling kaya di Indonesia menurut Globe Edition Tijdschrift pada Desember 2012 dengan kekayaan 8,7 milyar dolar Amerika. Pada tahun 2011, menurut Forbes, ia sebagai peringkat ke-3 orang terkaya di Indonesia, dengan aset Total 8 miliar, ia adalah pendiri dan pemilik kelompok Sinar Mas, memulsi bisnisnya dalam bidang kertas, pertanian pangan, barang dan jasa keuangan.

Profil Bos Eka Tjipta Widjaja

Nama asli Eka Widjaja adalah Oei Ek Tjhong, lahir 3 Oktober 1923 di China, ia terlahir dari keluarga yang sangat miskin. Ia pindah ke indonesia masih sangat kecil yaitu usia 9 tahun. Tepatnya pada tahun 1932, Eka Widjaja yang saat itu masih bernama Oei Ek Tjhong akhirnya menetap di kota Makassar.

Awal Kisah …
Pada mulanya, Eka membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan memiliki sebuah toko kecil. Maksudnya jelas, ingin langsung mendapatkan 150 dolar, untuk dibayarkan kepada pemberi pinjaman. Dua tahun kemudian, utang dilunasi, toko ayahnya sukses. Eka pun minta sekolah. Tetapi Eka tidak mau duduk di kelas satu. Eka Tjipta Widjaja bukanlah seorang sarjana, doktor, maupun gelar-gelar lainnya yang disandang para mahasiswa ketika mereka berhasil menamatkan studi. Namun beliau hanya lulus dari sebuah sekolah dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Ia harus merelakan pendidikannya demi untuk membantu orang tua dalam menyelesaikan hutangnya ke rentenir. Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun mulai berjualan.

Di sekitar kota Makassar, dengan mengendarai sepeda, ia keliling kota Makasar menjajakan permen, kue , dan aneka barang dari toko ayahnya. Dengan keuletannnya, usahanya mulai menunjukan hasil. Pada usia 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan sepedanya. Dia harus melewati hutan-hutan rimbun, kondisi jalan yang jelek. Kebanyakan penyedia tidak percaya. Secara umum, mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka. Hanya dua bulan, ia memiliki laba Rp.20 Jumlah yang fantastis saat itu. Harga beras saat itu masih 3-4 persen per kilogram. Melihat 1 pertumbuhan bisnisnya Eka pun membeli becak untuk memuat barangnya.

Tapi ketika usahanya maju, Jepang datang menyerbu Indonesia, termasuk Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tidak ada barang impor/ekspor yang dapat dijual. Total laba Rp.2000 yang susah payah Eka kumpulkan selama bertahun-tahun, telah habis untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus Eka dengan sepeda bututnya keliling makasar. Sampainya di Paotere (Pinggiran Makassar , sekarang salah satu basis terbesar dari kapal luar Jawa). Di sana ia melihat ratusan tentara pasukan Jepang sedang menonton ratusan tahanan Belanda. Tapi tidak orang Jepang dan Belanda itu yang menarik pandangan Eka, melainkan tumpukan Tepung, Semen, Gula, yang masih dalam kondisi baik. Otak Eka berputar cepat. Akhirnya, ia kembali ke rumah dan membuat persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Dia telah merencanakan untuk menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lokasi kerja itu.

Keesokan harinya, masih pukul empat pagi, Eka sudah di Paotere. Lengkap dengan kopi, gula, kaleng bekas minyak diisi dengan air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok, dll. Awalnya alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya pun ia pinjam. Ayam dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Ia juga memiliki sebotol wiskey, satu botol brandy dan sebotol anggur dari teman-temannya. Jam tujuh pagi ia sudah siap berjualan. Memang, pada jam tujuh pagi, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang.

Eka mempersilahkan makan dan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam dengan kecap dan cuka bawang putih ,dua teguk minuman gratis wiski, Jepang mengatakan Joto. setelah semua laki-laki dan tahanan itu diizinkan untuk makan dan minum di tenda Eka. Tentu saja, ia minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang.

Eka segera mengumpulkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang nya dan membayar 5-10 persen. Semua barang diangkat menggunakan becak. Halaman rumah Eka, dan setengah halaman Tetangga penuh dari segala macam barang. Dia juga memilih apa yang harus dijual dan dipakai. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat sampai dapat digunakan lagi. Dia juga belajar untuk menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, pasokan bahan bangunan dan barang-barang konsumen sangat kurang. Dari Semen, terigu, anggur Cina dan barang-barang lain yang Eka peroleh dari Puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Awalnya hanya Rp.50 per kantong, maka ia mengangkat Rp.60, dan akhirnya Rp.150. Untuk Semen, ia mulai menjual Rp.20 per kantong, maka Rp.40.

Pada saat itu ada kontraktor akan membeli Semennya, Untuk membuat makam orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurutnya kenapa jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun memutuskan menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Memulainya dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Sulawesi Selatan) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp.6 Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin pernikahannya untuk menutupi hutangnya.

Modal Eka habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau. Tak tanggung-tanggung, beliau juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada tahun 1981 beliau membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh.

Pundi-Pundi Uang …
Selain melakukan bisnis di bidang kelapa sawit dan teh, Eka Widjaja juga mulai merintis bisnis bank. Ia membeli Bank Internasional Indonesia mencapai 13 milyar dolar. Setelah berhasil, menjadi bank besar dan telah mempunyai 40 cabang dan cabang pembantu yang dulunya hanya 2 cabang dan asetnya kini mencapai 9,2 trilliun rupiah. Bisnis yang semakin banyak membuat Eka Tjipta Widjaja menjadi semakin sibuk dan kaya. Ia juga mulai merintis ke bisnis kertas. Hal ini dibuktikan dengan dibelinya PT. Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Pemilik Sinarmas Group ini juga membangun ITC Mangga Dua dan Green View apartemen yang berada di Roxy, dan tak ketinggalan pula ia bangun Ambassador di Kuningan.

Eka Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam bisnis dan kehidupan. Ia menikahi seorang wanita bernama Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + 12 =