Putera Sampoerna : Profil & Biodata

Loading...

Nama : Putera Sampoerna & family
Peringkat 11 orang terkaya di Indonesia
Usia : 66 Tahun
Sumber Kekayaan : Investasi
Total Kekayaan : $2.15 B per November 2013
Residen : Jakarta, Indonesia

Putera Sampoerna (lahir di Schiedam, Belanda, 13 Oktober 1947, usia 66 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai bos perusahaan tembakau PT. HM Sampoerna. Anak ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) dan cucu dari Liem Seeng Tee.

Putera Sampoerna

Pada tahun 2011, Forbes menerbitkan daftar orang terkaya di Indonesia dimana Putera meraih peringkat ke-9 dengan total kekayaan US$ 2,4 miliar.

Putera mendapat pendidikan internasional pertama di Diocesan Boys School, Hong Kong, dan lanjut di Carey Baptist Grammar School, Melbourne. Dia kemudian mengejar pendidikan tinggi di University of Houston, Texas, Amerika Serikat.

Lulus dari Universitas, dia tidak terlibat langsung dalam bisnis keluarga. Dengan istrinya, Katie, Cina Amerika, Dia tinggal di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh perusahaan Malaysia. Pada tahun 1980, dia datang ke surabaya untuk bergabung dalam operasional PT HM Sampoerna Tbk.

Pria yang menyukai angka sembilan ini mulai menjadi tokoh utama dalam manajemen perusahaan. Setelah Aga meninggal pada tahun 1994, Putera meningkatkan kinerja yang lebih aktif merekrut profesional dengan perusahaan asing untuk berpartisipasi dalam mengembangankan kerajaan bisnis.

Secara luas, Putera dikenal sebagai bos dari sebuah perusahaan yang tidak hanya pandai berinovasi untuk produk inti, yaitu rokok, tetapi juga ingin berinovasi melihat peluang sektor usaha lainnya. Di bisnis sigaret, nama Putera tidak bisa dihapus seiring berkembangnya segmen pasar baru, yakni rokok rendah tar dan nikotin. HM Sampoerna telah mempelopori produk baru LTLN dengan produk mereka, A Mild yang diluncurkan pada tahun 1988 dengan membuat tanjidor orkestra dengan 234 orang di tahun yang sama.

Selama kepemimpinananya, PT. Sampoerna juga memperluas kegiatannya di bidang supermarket dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, tapi akhirnya gagal. Pada tahun 2000, Putera mengalihkan perusahaan kepada anaknya, Michael.

1998 adalah periode penting dalam perjalanan global Putera Sampoerna dan keluarganya dimana Putera memutuskan untuk menjual seluruh saham Sampoerna Tbk PT HM Sampoerna (40%) ke Philip Morris International. Pengumuman ini mengejutkan karena keputusan untuk menjual bisnis keluarga yang mulai ia rintis pada tahun 1913 merupakan langkah dalam berisiko tinggi mengingat HM Sampoerna telah menjadi sumber pendapatan penting, apalagi pada saat itu kinerja bisnis sangat baik. Kinerja HM Sampoerna pada waktu itu (2004) mampu memperoleh laba bersih sebesar Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang di posisi pertama dan perusahaan rokok yang menguasai pasar, dengan 19,4% pangsa rokok di Indonesia, diatas Bentoel (No. 2) dan Nojorono (No. 3). Sampai saat ini, alasan Putera Sampoerna untuk menjualnya tidak diketahui dengan jelas.

Setelah penjualan PT HM Sampoerna, Putera Sampoerna Strategic dan keluarga menyiapkan sebuah kendaraan investasi baru. Sampoerna Strategic yang bergerak di bidang telekomunikasi (Anda), perkebunan kelapa sawit (Sampoerna Agro), kayu (kayu Samko) dan keuangan mikro (UKM Sahabat). Dinahkodai secara strategis oleh Michael Sampoerna, putra bungsu Sampoerna.

Pada tahun 2001, ia mendirikan sebuah organisasi sosial Putera Sampoerna Foundation (PSF), yang dijalankan oleh putrinya Michelle Sampoerna. Tujuannya adalah untuk mempromosikan masyarakat Indonesia oleh empat pilar : pendidikan, pemberdayaan perempuan, kewirausahaan dan bantuan kemanusiaan.

Sebagai pendiri PSF, 12 Desember 2011, anak Samporena menerima hadiah perdamaian oleh Commerce Medal Award 2011 dari Administrasi Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan AS. Menurut Wakil Menteri Perdagangan, Francisco J Sanchez di sela-sela upacara di Nusa Dua, Bali, hadiah diberikan bagi upaya aktif Putera Sampoerna untuk perdagangan internasional antara Amerika Serikat dan Indonesia meningkat melalui kerjasama bidang pendidikan yang lebih tinggi. Pada 2013, PSF mendirikan universitas yang merupakan hasil penggabungan dari Sampoerna School of Education (SSE) dan Sampoerna School of Business (SSB).

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + nineteen =