Prajogo Pangestu : Profil & Biodata

Loading...

Nama : Prajogo Pangestu
Peringkat 41 orang terkaya di Indonesia
Usia : 69 Tahun
Sumber Kekayaan : diversifikasi, warisan
Total Kekayaan : $745 M per November 2013
Residen : Indonesia

Prajogo Pangestu merupakan pengusaha sukses yang namanya berhasil menghiasi dunia bisnis di Indonesia. Beliau dikenal sebagai taipan kayu terbesar di Indonesia yang memulai karirnya pada akhir tahun 70-an. Kesuksesan yang diraihnya tidak luput dari usaha keras dan juga kegigihan yang dilakukan selama bertahun-tahun. Tidak pantang menyerah dan terus berusaha tanpa henti adalah kuncinya.

Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu adalah seorang kepala keluarga yang memiliki seorang istri dan dikaruniai tiga orang anak. Saat ini beliau berusia 69 tahun. Ia adalah anak seorang pekerja penyadap getah karet, Phang Siu On. Untuk menambah penghasilan, ayah Prajogo berubah profesi menjadi tukang jahit. Harapan dari keluarganya terdapat di namanya yaitu Phang Djoen Phen yang berarti burung besar yang terbang tinggi dan menguak awan mendung. Dengan nama ini, diharapkan Prajogo Pangestu dapat merubah hidupnya dan menjadi orang yang lebih sukses daripada kedua orang tuanya.

Kekayaan yang dimiliki oleh Prajogo Pangestu tentu saja tidak sedikit, sehingga dia mampu menjadi salah satu orang yang masuk dalam 40 orang paling kaya di Indonesia, versi majalah forbes. Beliau menempati peringkat ke 35 pada tahun 2012 dengan kekayaannya yang mencapai US$ 800 juta. Dengan kerja keras dan juga kegigihan yang selalu ditanamkan pada dirinya sejak dulu itulah yang membuat Prajogo Pangestu sanggup mengarahkan segala bisnisnya agar semakin melebar dan juga berhasil, hingga bertahan sampai sekarang.

Pada awalnya, Prajogo Pangestu hanya direkrut oleh Burhan Uray seorang pengusaha kayu asal Malaysia. Burhan Uray atau dikenal sebagai Bong Sun On, masuk ke Indonesia saat maraknya penyelundupan kayu ke Malaysia. Saat itu keuntungan yang didapatkan Burhan sangat melimpah sehingga Prajogo Pangestu direkrut untuk bekerja di perusahaannya di Surabaya. Namun, ia hanya bekerja selama 1 tahun dan membeli perusahaan CV Pacific Lumber Coy yang sedang mengalami pailit. Sejak itulah, Pacific Lumber Coy yang mengubah namanya menjadi Barito Pacific Coy semakin berkembang ketika dipegang oleh Prajogo Pangestuyang mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan di Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Papua, dan juga Maluku serta memiliki lahan lebih dari 5,5 juta hektar yang tersebar di seluruh Indonesia. Tentunya ini membantu kesuksesan perusahaan milik Prajogo Pangestu untuk terus bertambah lebih besar.

Pada tahun 1991 Prajogo mendirikan perusahaan PT. Musi Hutan Persada dan mendirikan hotel Di Pulau Sentosa, Singapura. Namun lantaran ada kasus pemerasan dan juga laporan palsu, ia sempat ditetapkan menjadi seorang tersangka. Karena tidak ada cukup bukti, polisi pun menghentikan proses penyidikan. Prajogo Pangestupun kembali dalam dunia bisnis Indonesia pada tahun 2009 dengan proyek Menara Jakarta dengan memegang saham dalam pembangunan menara tersebut. Sekarang setelah memasuki usia senja, beliau lebih memilih untuk menyerahkan usaha yang sudah dirintisnya tersebut kepada salah satu puteranya yaitu Agus Salim Pangestu yang sebelumnya memimpin sendiri Grup Barito sejak Juni 2002.

Hidup yang keras membuat Prajogo Pangestu terdidik menjadi pribadi yang pantang menyerah dan tidak henti-hentinya berusaha untuk mengembangkan usahanya. Dulunya, ia bahkan tidak lulus SLTA karena kesulitan ekonomi yang dialami oleh orang tuanya. Namun karena doa dari orang tua dan usahanya yang ulet saat ini Prajogo Pangestu, yang lahir dari keluarga orang tak mampu bahkan bisa menjadi salah satu dari 40 orang terkaya di Indonesia.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − four =