Biografi Sumitro Djojohadikusumo

Ekonom idealis yang dijuluki Begawan Ekonomi Indonesia ini lima kali menjabat sebagai menteri di masa OrIa maupun Orba, dan anggota “lima ahli dunia” (group of five top experts) versi PBB.

Biografi Sumitro Djojohadikusumo

Ia adalah simbol idealisme ekonom. Konsisten mempertahankan sikap yang dianggapnya benar, membuat hubungannya dengan penguasa mengalami grafik yang naik-turun tajam. Ia dimusuhi Soekamo karena mengritik kebijakan yang tidak benar. Ia juga dikucilkan Soeharto karena dianggap terlalu
kritis.

Sumitro lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 29 Mei 1917. Ayahnya, Margono Djojohadikusmo, adalah pendiri BNI 1946. Setelah lulus Hogere Burger School (HBS), Sumitro berangkat ke Belanda pada akhir Mei 1935. Ia sempat dua bulan “mampir” di Barcelona, sebelum ke Rotterdam untuk belajar ekonomi.

Biografi Sumitro Djojohadikusumo 1

Dalam tempo dua tahun tiga bulan, ia meraih gelar Bachelor of Arts (BA). Ini rekor waktu tercepat di Netherlands School of Economics. Ia juga sempat kuliah di Universitas Sorbonne, Paris. Di sanalah karakter Sumitro terbentuk. Antara 1938-1939 di Perancis, Sumitro masuk ke kelompok sosialis dan berkenalan dengan tokoh dunia seperti Andre Malraux, Jawaharlal Nehru, Henri Bergson, dan Henri Cartier-Bresson.

Dari mereka dia belajar banyak tentang pengabdian, perlawanan, keadilan sosial, dan konsistensi dalam memegang prinsip hidup. Pergolakan politik dan militer di Eropa saat itu turut menarik perhatiannya. Ia sempat ikut latihan militer di Catalonia, tapi gagal masuk Brigade Internasional karena umurnya belum genap 21 tahun.

Ia pun kembali ke Belanda untuk melanjutkan studio Gelar Master of Arts (MA) diraih tahun 1940. Ketika Jerman menyerang Belanda, 5 Mei 1940, Sumitro sedang melakukan penulisan disertasi untuk gelar doktornya, di bawah asuhan Prof. Dr. G.L. Gonggrijp.

Berada di bawah tekanan pendudukan Nazi Jerman, semangat belajar Sumitro tak padam. Ia toh bisa menyisihkan waktu untuk aktivitasnya dalam gerakan bawah tanah anti-Nazi. Ia berhasil meraih gelar doktor dalam usia 26 tahun, dengan disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi).

Kabar tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai juga kepadanya. Sumitro kemudian pulang ke tanah air. Ia kehilangan dua orang adik, Subianto (21) dan Sujono (16), yang gugur dalam pertempuran melawan Jepang di Tangerang. Tragedi itu membulatkan tekad Sumitro untuk mengabdi pada bangsanya. Ia ambil bagian dalam perjuangan di meja diplomasi untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan.

Tahun 1950-51, ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian dalam Kabinet Natsir. Kemudian ia berkarir sebagai dosen. Tahun 1955 ia mendirikan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia). Ia pun berjuang mewujudkan Fakultas Ekonomi VI sebagai school of economics berintegritas tinggi. Dari sanalah kemudian muncul orang-orang seperti Widjojo Nitisastro, JB Sumarlin, dan Ali Wardhana.

Merekalah yang menentukan corak pembangunan ekonomi Indonesia selama 1967-1997. Situasi politik yang buruk pada tahun 1957 memaksa Sumitro meninggalkan Jakarta. Mei 1957 ia ke Sumatera dan bergabung dengan PRRI. Ia menjadi buron dan sempat melarikan diri ke Padang, Pekanbaru, Bengkalis, kemudian menyamar jadi kelasi kapal menuju Singapura.

Ia kemudian pergi ke Saigon, juga dengan menyamar sebagai kelasi kapal, lalu menuju Manila untuk melakukan kontak dengan Permesta. Sepuluh tahun ia berada di pelarian, hingga rezim Soekarno tumbang dan Orde Baru mulai berkuasa. “You just remain yourself, and I just remain myself,” itu yang dikatakan Sumitro saat menjawab permintaan Soeharto untuk kembali ke Indonesia, pada 1967.

Soeharto butuh penasihat ekonomi. Pertengahan 1968, Sumitro terpilih menjadi Menteri Perdagangan hingga 1973. Keluar dari kabinet pada tahun 1978, Sumitro menjadi konsultan dan menulis buku. Berbagai tanda penghargaan diperolehnya a.I. Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negarh dari Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, penghargaan. first Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross Of the Crown dari Kerajaan Belgia serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Perancis.

Salah satu anaknya, Prabowo Subianto, menikahi puteri Soeharto. lni menempatkan Sumitro dalam posisi rumit.

Namun, Sumitro memilih untuk tidak berubah. la tetap melancarkan kritik tajam terhadap pemerintah, antara lain mengenai korupsi. Baginya, pernikahan Prabowo dengan Siti Hediyati pada Mei 1983, hanyalah historical accident.

Pada usia menjelang 84 tahun, Sumitro meninggal dunia pada Jumat, 9 Maret 2001 pukul 00.00 di Jakarta, setelah beberapa lama dirawat karena sakit jantung. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + seventeen =