Profil dan Biodata 33 Tokoh Pers Nasional

Loading...

Indonesia memiliki banyak sekali tokoh yang berperan penting dalam perkembangan pers. Sebagian tokoh sudah meninggal dunia dan sebagaian yang lainnya masih aktif dan terus berkontribusi bagi perkembangan pers nasional.

Profil dan Biodata 33 Tokoh Pers Nasional

Berikut rangkuman profil 33 tokoh pers nasional :

1. Abdoel Rivai (lahir di Palembang, 13 Agustus 1871 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 16 Oktober 1937 pada umur 66 tahun) adalahdokter dan wartawan Indonesia. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari Eropa. Rivai dianugerahi gelar sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974 oleh Pemerintah Indonesia.

2. Abdullah Ahmad (lahir di Padang Panjang, 1878 – meninggal di Padang, 1933 pada umur 55 tahun) adalah seorang ulama reformis yang turut membidani lahirnya perguruan Sumatera Thawalib di Sumatera Barat. Ia merupakan anak dari Haji Ahmad, ulama Minangkabau yang juga seorang pedagang, dan seorang ibu yang berasal dari Bengkulu.

3. Adam Malik Batubara (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984 pada umur 67 tahun) adalah mantan Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, antara lain ia pernah menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Ia juga pernah menjadi Wakil Presiden Indonesia yang ketiga.

4. Djamaluddin Adinegoro (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 – meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun) adalah sastrawan Indonesia dan wartawan kawakan. Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930). Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Ia memiliki seorang istri bernama Alidas yang berasal dari Sulit Air, X Koto Diatas, Solok, Sumatera Barat.

5. Prof. Dr. Andi Abdul Muis (Pulau Kalukuang, Kabupaten Pangkep, 4 Desember 1929–Makassar, 6 Agustus 2005) adalah seorang pakar ilmu komunikasi dan pejuang kebebasan pers Indonesia.

6. Ani Idrus (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 25 November 1918 – meninggal di Medan, Sumatera Utara, 9 Januari 1999 pada umur 80 tahun) adalah seorang wartawati senior yang mendirikan Harian Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947.

7. Arswendo Atmowiloto (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948; umur 63 tahun) adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkannyalah nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.

8. Atang Ruswita (Bandung, 26 April 1933 – Bandung 13 Juni 2003) merupakan seorang wartawan dan pemimpin umum berkebangsaan Indonesia. Dia ikut serta memimpin redaksi Pikiran Rakyat. Selama hidupnya, ia mendedikasikan dirinya untuk dunia jurnalistik dan kemanusiaan. Ia menjabat Ketua IPPI Cimahi (1950-1952), Ketua PWI Cabang Bandung (1967), Ketua Pelaksana Harian PWI Pusat (1973-1986), dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat. Di bidang politik, ia pernah menjadi anggota DPR-MPR RI (1978-1982). Menjelang peringatan Hari Proklamasi 14 Agustus 1998, ia memperoleh anugerah tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah yang disampaikan langsung oleh Presiden B.J. Habibie di Istana Negara Jakarta.

9. Burhanuddin Mohammad Diah (lahir di Kutaraja, yang kini dikenal sebagai Banda Aceh, 7 April 1917 – meninggal di Jakarta, 10 Juni 1996 pada umur 79 tahun) adalah seorang tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha Indonesia.

10. Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951; umur 60 tahun), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.[2] Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.

11. Desi Anwar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 11 Desember 1962; umur 49 tahun) adalah seorang presenter berita terkemuka di Indonesia.

12. Dja Endar Moeda atau lengkapnya Dja Endar Moeda Harahap adalah perintis pers berbahasa Melayu kelahiran Padang Sidempuan, 1861. Dididik sebagai guru di sekolah pengajaran guru di Padang Sidempuan, kariernya di dunia pers dimulai sebagai redaktur untuk jurnal bulanan Soeloeh Pengadjar pada 1887.

13. Djawoto (lahir 10 Agustus 1906 di Tuban, Jawa Timur, meninggal dunia 24 Desember 1992 di Amsterdam) berasal dari keluarga pangreh praja.

14. Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Batang, 29 Juli 1941; umur 70 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo. Ia merupakan adik Kartono Mohamad, seorang dokter yang menjabat sebagai ketua IDI.

15. Harmoko (lahir di Desa Patihanrowo, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939; umur 72 tahun) adalah politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Indonesia pada masa Orde Baru, dan Ketua MPR pada masa pemerintahan BJ Habibie. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, dan kemudian menjadi Menteri Penerangan di bawah pemerintahan Soeharto.

16. Dr (HC) Jakob Oetama (lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931; umur 80 tahun), adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat Kabar Kompas. Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.

17. Muhammad Jusuf Ronodipuro (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 30 September 1919 – meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 88 tahun) adalah duta besar Indonesia. Pada awalnya ia dikenal sebagai penyiar kemerdekaan Republik Indonesia secara luas. Ia juga adalah salah satu pendiri dari RRI. Selain itu ia pernah menjadi duta besar luar biasa di Uruguay, Argentina, dan Chili. Ia meninggal dunia karena sakit (stroke) dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

18. Karni Ilyas (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 September 1952; umur 59 tahun) adalah salah seorang wartawan Indonesia. Karni merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

19. Lazarus Eduard Manuhua (lahir 4 Juni 1925 – meninggal 25 November 2003 pada umur 78 tahun) merupakan seorang pendiri harian Pedoman Rakyat Makassar. Manuhua berkarier sebagai Redaktur Sinar Matahari (1943-1947), Wakil Pimpinan Antara Makassar (1967-1970), Pemimpin Umum Pedoman Rakyat (1947-2003), Ketua PWI Cabang (1948), Ketua PWI Pusat (1988), Ketua Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku Makassar (1948-1950), Partai Indonesia Merdeka Ambon (1947), dan Partai Kedaulatan Rakyat (1948).

20. Liem Koen Hian adalah seorang tokoh wartawan dan politik Indonesia. Ia dilahirkan di Banjarmasin pada 1897 dalam keluarga pedagang kecil Tionghoa peranakan, dan wafat di Medan, 5 November 1952. Ia tidak lulus sekolah di HCS—hanya sampai kelas 6 dari 7 kelas—karena dikeluarkan dari sekolah, sebab menantang berkelahi seorang gurunya yang berkebangsaan Belanda. Lalu ia bekerja sebagai pegawai kecil di sebuah perusahaan. Akan tetapi minatnya pada jurnalisme membuatnya beralih kerja ke sebuah harian di Balikpapan. Sulit dipastikan, apakah ia bekerja di surat kabar (SK) Penimbang, SK Pengharepan, atau Borneo Post.

21. Mahyuddin Datuk Sutan Maharadja (lahir di Sulit Air, Solok, Sumatera Barat tahun 1858 – wafat di Padang tahun 1921) adalah wartawan Indonesia dan perintis pers Melayu. Dia juga merupakan tokoh adat Minangkabau yang terkemuka.

22. Maria Margaretha Hartiningsih adalah wartawan senior harian Kompas. Ia adalah penerima penghargaan Yap Thiam Hien untuk tahun 2003. Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2003 yang diketuai Prof Soetandyo Wignjosoebroto dengan anggota Prof Dr Azyumardi Azra, Prof. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., MA., PhD., dan Asmara Nababan SH menilai Maria Hartiningsih sebagai jurnalis yang sangat konsisten dalam penulisannya memperjuangkan hak asasi manusia. Maria juga merupakan wartawan pertama yang menerima penghargaan tersebut.

23. Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 – meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).

24. Norbertus Riantiarno (lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949; umur 62 tahun), atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977). Dia adalah suami dari aktris Ratna Riantiarno.

25. Parada Harahap (1899 – 1959) adalah seorang jurnalis Indonesia yang lahir di Pargarutan, Padangsidempuan, Tapanuli Selatan. Ia dijuluki King of the Java Press karena kemauannya yang keras dan semangat belajarnya yang tinggi, baik secara otodidak maupun mengikuti kursus-kursus. Sejak bulan Juli 1914, ia bekerja sebagai leerling schryver pada Rubber Cultur My Amasterdam di Sungai Karang, Asahan. Karena kecerdasan dan daya ingatnya yang sangat baik Parada Harahap kemudian dapat menggantikan juru buku berkebangsaan Jerman. Selama bekerja di perkebunan itu Parada Harahap terus belajar supaya dapat berbicara bahasa Belanda membaca surat kabar De Sumatera Post dan surat kabar berbahasa Melayu seperti Benih Merdeka dan Pewarta Deli serta mempelajari tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar itu. Pada tahun 1917 dan 1918 Parada Harahap telah menulis dan membongkar kekejaman Poenale Sanctie dan perlakuan di luar batas perikemanusiaan terhadap kuli-kuli kontrak yang dilakukan baik oleh tuan kebun maupun bawahannya.

26. Petrus Kanisius Ojong atau Auwjong Peng Koen (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia, 25 Juli 1920 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 31 Mei 1980 pada umur 59 tahun) adalah salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia (bersama Jakob Oetama). Ojong menjadi jurnalis sejak awal usia 30-an. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki. PK Ojong meninggal tahun 1980.

27. Ramadan K.H. yang nama lengkapnya adalah Ramadan Karta Hadimadja (lahir di Bandoeng, 16 Maret 1927 – meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006 pada umur 79 tahun) adalah seorang penulis biografi Indonesia. Ia meninggal setelah menderita kanker prostat selama ±3 bulan.

28. Rohana Kudus (lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 – meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun) adalah wartawan Indonesia. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Ia adalah perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

29. H. Rosihan Anwar (lahir di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok, 10 Mei 1922 – meninggal di Jakarta, 14 April 2011 pada umur 88 tahun) adalah tokoh pers Indonesia, meski dirinya lebih tepat dikatakan sebagai sejarawan, sastrawan, bahkan budayawan. Rosihan yang memulai karier jurnalistiknya sejak berumur 20-an, tercatat telah menulis 21 judul buku dan mungkin ratusan artikel di hampir semua koran dan majalah utama di Indonesia dan di beberapa penerbitan asing.

30. Rumhardjono (13 April 1939 – Jakarta, 19 September 2007) merupakan seorang wartawan berkebangsaan Indonesia. Dia menjadikannya dikenal sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara pada akhir tahun 1970-an dan 1980-an. Dia menjabat sebagai wartawan Kompas pada tahun 1974-1999.

31. Sabam Pandapotan Siagian (lahir di Jakarta, 4 Mei 1932; umur 79 tahun) adalah wartawan Indonesia dan Duta Besar RI di Australia periode 1967-1973[1]. Karena orangtuanya menginginkan dia menjadi sarjana hukum – selain pendeta – ia masuk ke Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia. Karena tidak terlalu tertarik ia memutuskan untuk pindah ke Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) yang akhirnya tidak selesai juga. Sempat mengikuti pendidikan ilmu politik di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, namun itu pun tidak ia selesaikan. Kemudian pada 1978, ia mengikuti program Nieman Fellow for Journalism dari Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

32. Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880–1918) adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S.. Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

33. Titie Said (lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935 – meninggal di Jakarta, 24 Oktober 2011 pada umur 76 tahun) adalah penulis senior sekaligus Ketua Badan Sensor Film Indonesia. Lulusan sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959 ini pernah menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 4 =