Abu Wafa : Profil & Biografi

Abul Wafa merupakan seorang saintis serba bisa. Tak hanya jago di bagian matematika, ia juga populer untuk insinyur serta astronom populer pada zamannya. Kiprah serta pemikirannya di bagian sains diakui peradaban Barat. Sebagai bentuk pengakuan dunia atas jasanya meningkatkan astronomi, organisasi astronomi dunia mengabadikannya menjadi nama satu diantara kawah bulan. Dalam bidang matematika, Abul Wafa juga banyak berikan sumbangan yang benar-benar perlu untuk pengembangan ilmu berhitung itu.

Abu Wafa Profil & Biografi 1

Sepanjang hidupnya, Abu Wafa telah berjasa melahirkan sederet inovasi penting bagi ilmu matematika. Ia tercatat menulis kritik atas pemikiran Eucklid, Diophantos dan Al-Khawarizmi sayang risalah itu telah hilang. Sang ilmuwan pun mewariskan Kitab Al-Kami (BukuLengkap) yang membahas tentang ilmu hitung (aritmatika) praktis. Kontribusi lainnya yang tak kalah penting dalam ilmu matematika adalah Kitab Al-Handasa yang mengkaji penerapan geometri. Ia juga berjasa besar dalam mengembangkan trigonometri. Abul Wafa tercatat sebagai matematikus pertama yang mencetuskan rumus umum sinus. Selain itu, sang matematikus pun mencetuskan metode baru membentuk tabel sinus.

Abu Wafa Profil & BiografiIa juga membenarkan nilai sinus 30 derajat ke tempat desimal kedelapan. Yang lebih mengagumkan lagi, Abul Wafa membuat studi khusus tentang tangen serta menghitung sebuah tabel tangen. Jika Anda pernah mempelajari matematika tentu pernah mengenal istilah secan dan co secan. Ternyata, Abul Wafalah yang pertama kali memperkenalkan istilah matematika yang sangat penting itu.

Abu Wafa dikenal sangat jenius dalam bidang geometri. Ia mampu menyelasikan masalah-masalah geometri dengan sangat tangkas. Buah pemikirannya dalam matematika sangat berpengaruh di dunia Barat.

Abu Wafa lahir di Buzjan, Khurasan (Iran) pada tanggal 10 Juni 940/328 H. Ia belajar matematika dari pamannya bernama Abu Umar al-Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan, ilmu geometri dikenalnya dari AbuYahya al-Marudi dan Abu al-Ala Ibn Karnib.

Abul Wafa tumbuh besar di era bangkitnya sebuah dinasti Islam baru yang berkuasa di wilayah Iran. Dinasti yang ber nama Buwaih itu berkuasa di wilayah Persia, Iran dan Irak pada tahun 945 hingga 1055 M. Kesultanan Buwaih menancapkan benderanya di antara periode peralihan kekuasaan dari Arab ke Turki. Dinasti yang berasal dari suku Turki itu mampu menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada masa kepemimpinan Ahmad Buyeh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + nineteen =