Biografi Emha Ainun Nadjib

Loading...

Emha Ainun Nadjib lahir di Jombang, 27 Mei 1953, anak ke-4 dari 15 bersaudara, pendidikan formalnya hanya selesai di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sebelum itu ‘diusir’ dari Pondok Moderen Gontor Ponorogo lantaran ‘demo’ melawan Dept. Keamanan pada pertengahan tahun ketiga studinya, lalu pindah ke Yogya dan bisa tamat SMA Muhammadiyah I.

Biografi Emha Ainun Nadjib

5 tahun hidup menggelandang di Malioboro Yogya pada 1970-1975 saat belajar sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius serta sangatlah memengaruhi perjalanan Emha. Memacu kehidupan multi-kesenian Yogya berbarengan Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti serta menghasilkan reportoar dan pementasan drama.

Emha terjun langsung di masyarakat serta melaksanakan multi-aktivitas yang merangkum serta menggabungkan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, kolaborasi ekonomi, yang berintikan usaha penumbuhan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunita Masyarakat Padang Bulan di beberapa kota, ia juga disuruh berkeliling ke beragam lokasi seluruh nusantara, rata-rata 10-15 kali perbulan bersama Musik Kiai Kanjeng, serta ia sendiri rata-rata 40-50 acara yang massa yang umumnya outdoor, dengan beragam strata dan segmen masyarakat. Mengumpulkan semua kelompok, aliran, grup, agama, berdasarkan kegembiraan menikmati kebersamaan kemanusiaan.

Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia lakukan beragam dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan langkah berpikir, dan pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Drama
· Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan Raja Soeharto),
· Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan),
· Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern),
· Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
· Kemudian bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta bersama 35.000 penonton di alun-alun madiun),
· Lautan Jilbab ( 1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar),
· Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
· Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan, dll.

Menerbitkan 16 buku puisi, diantaranya :
· “M” Frustasi (1976),
· Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978),
· Sajak-Sajak Cinta (1978),
· Nyanyian Gelandangan (1982),
· 99 Untuk Tuhanku (1983),
· Suluk Pesisiran (1989),
· Lautan Jilbab (1989),
· Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990),
· Cahaya Maha Cahaya (1991),
· Sesobek Buku Harian Indonesia (1993),
· Abacadabra (1994),
· Syair Amaul Husna (1994), dll.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 3 =