Profil & Biografi Pangeran Antasari

Pangeran Antasari merupakan pahlawan nasional Indonesia yang namanya senantiasa digunakan sebagai nama jalan utama di seluruh kota besar di Indonesia. Raja dari Kalimantan ini memang memiliki peran cukup besar dalam kemerdekaan Indonesia pada masa hidupnya sebagai pemimpin dan raja masyarakat Banjar dan sekitarnya.

Profil & Biografi Pangeran Antasari

Memiliki nama muda Gusti Inu Kartapati, Pangeran Antasari dilahirkan di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797 atau 1809 (2 versi tahun kelahiran). Ia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Ibu Pangeran Antasari yaitu Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Bapak Pangeran Antasari yaitu Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir. Pangeran Amir merupakan anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta pada tahun 1785. Ia diusir oleh walinya sendiri, Pangeran Nata, yang dengan dukungan Belanda memaklumkan dirinya sebagai Sultan Tahmidullah II. Pangeran Antasari mempunyai 3 putera serta 8 puteri. Pangeran Antasari memiliki adik wanita yang bernama Ratu Antasari dengan sebutan lain Ratu Sultan Abdul Rahman yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam namun wafat lebih dahulu sehabis melahirkan calon pewaris kesultanan Banjar yang diberi nama Rakhmatillah, yang juga wafat semasa masih bayi.

Sebagai Pemimpin
Pangeran Antasari bukan sekedar dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga adalah pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai serta sebagian suku lainya yang berdiam di lokasi serta pedalaman atau sepanjang Sungai Barito.

Sesudah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) serta lantas diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam paling tinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh serta sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama serta bangsawan-bangsawan Banjar ; dengan nada bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin”, yakni pemimpin pemerintahan, panglima perang serta pemuka agama tertinggi.

Tak ada alasan lagi untuk Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia mesti menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya serta bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab seutuhnya pada Allah serta rakyat.

Pangeran Antasari Vs Belanda
Perang Banjar pecah waktu Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Setelah itu peperangan demi peperangan dikomandoi Pangeran antasari di semua lokasi Kerajaan Banjar. Dengan dibantu beberapa panglima serta pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito hingga ke Puruk Cahu.

Pertempuran yang berkecamuk semakin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di beragam medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala pertolongan dari Batavia serta persenjataan moderen, pada akhirnya sukses menekan pasukan Khalifah. Dan pada akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Berulang-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, tetapi beliau tetap pada pendirinnya. Dalam peperangan, belanda pernah tawarkan hadiah pada siapa juga yang dapat menangkap serta membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10. 000 gulden. Tetapi hingga perang usai tak seseorang pun mau menerima tawaran ini.

Akhir Hayat
Sesudah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh rayu bujuk Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam umur sekitar 75 tahun. Mendekati wafatnya, beliau terserang sakit paru-paru serta cacar yang dideritanya sesudah terjadinya pertempuran dibawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan. Perjuangannya dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Muhammad Seman.

Sesudah terkubur selama kurang lebih 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar serta kesepakatan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilaksanakan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut serta sebagian helai rambut. Lalu kerangka ini dimakamkan kembali Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.

Profil & Biografi Pangeran Antasari 1

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional serta Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasar pada SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari serta julukan untuk Kalimantan Selatan yakni Bumi Antasari. Lalu untuk lebih memperkenalkan Antasari pada masyarakat nasional, Pemerintah lewat Bank Indonesia (BI) sudah membuat serta mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =