Biografi Adi Soetjipto

Adisoetjipto atau Adi Sucipto atau Agustinus Adisoetjipto merupakan nama pahlawan yang diabadikan sebagai nama Bandara Udara di Yogyakarta. Ia merupakan Bapak Penerbang Republik Indonesia. Adi Sucipto dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916 dan meninggal di Bantul, Yogyakarta, 29 Juli 1947 pada umur 31 tahun.

Biografi Adi Soetjipto

Adisoetjipto mengenyam pendidikan GHS (Geneeskundige Hoge School) (Sekolah Tinggi Kedokteran) serta lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati, Subang.

Tjipto lulus lebih cepat serta memperoleh nilai yang amat baik. Dia memiliki hak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga memperoleh brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia yang waktu itu memiliki brevet penerbang kelas atas.

Sesudah kemerdekaan, tanggal 5 Oktober 1945 juga dibentuk Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan. Surjadi Suryadarma yang memimpin jawatan ini memanggil Adisutjipto untuk menolong membentuk angkatan udara. Keadaan angkatan udara waktu itu sangatlah memprihatinkan. Tak ada pilot, tak ada mekanik pesawat, tak ada dana, cuma terdapat banyak pesawat tua peninggalan Jepang.

Adisutjipto nekat menerbangkan pesawat-pesawat itu. Tanggal 10 Oktober 1945 dia sukses menerbangkan pesawat type Nishikoren yang dicat merah putih dari Tasikmalaya ke Maguwo, Yogyakarta. Tanggal 27 Oktober 1945 dia sukses menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogya. Bukanlah tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal tersebut dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat.

Biografi Adi Soetjipto 1

Pada tanggal 15 November 1945, Adisoetjipto membangun Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang lalu ditukar namanya jadi Bandara Adisutjipto, untuk mengenang jasanya sebagai pahlawan nasional.

Ketika Agresi Militer Belanda I, Adisujipto serta Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India serta Pakistan sukses dilaksanakan. Tetapi dalam perjalanan pulang membawa pertolongan obat-obatan dari Malaya, pesawat Dakota VT-CLA ditumpanginya jatuh ditembak oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947.

Ia dimakamkan di pekaman umum Kuncen I dan II, serta lalu pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 11 =