Profil & Biografi Armijn Pane

Loading...

Armijn Pane juga dikenal dengan Ammak, Ananta, Anom Lengghana, Antar Iras, AR., A. R., Ara bin Ari, serta Aria Indra. Dengan beberapa nama itu ia menulis puisi dalam majalah Pedoman Masyarakat, Poedjangga Baroe, serta Pandji Islam. Armijn Pane, anak ketiga dari 8 bersaudara, memiliki nama samaran banyak, yakni Adinata, A. Jiwa, Empe, A. Mada, A. Panji, serta Kartono. Ia dilahirkan tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Tempat peristirahatannya yang paling akhir yaitu pemakaman Karet, Jakarta, berdampingan dengan makam kakaknya, Sanusi Pane, yang wafat setahun pada awal mulanya.

Profil & Biografi Armijn Pane

Armijn Pane meninggalkan seseorang istri serta seseorang anak angkatnya berumur 6 tahun yang ketika ia wafat beralamat di jalan Setia Budi II No. 5, Jakarta. Sayang sekolahnya tak dilanjutkan, lalu th. 1927 ia pindah ke Nederlands-Indische Artsenschool (Nias) ‘sekolah kedokteran’ (Nias) yang didirikan tahun 1913 di Surabaya. Jiwa seninya tidak bisa dikendalikan maka ia lantas masuk ke AMS bagian AI jurusan bahasa serta kesusastraan di Surakarta sampai tamat tahun 1931.

Dalam dunia pendidikan ia juga terdaftar juga sebagai guru bahasa serta sejarah di perguruan Taman Siswa, baik di Kediri ataupun di Jakarta. Dalam ke-2 cerita itu tak terlihat beberapa hal yang mendasar mengenai ilmu kedokteran yang dipunyai tokoh, yang di sajikan cuma muka serta tingkah laku tokoh dokter secara permukaan. Hal tersebut mungkin saja saja dikarenakan ia sekolah kedokteran tak sampai tamat jadi tak sampai menghayati semuanya yang terkait dengan pengetahuan itu.

Di beritakan bahwa Armijn Pane setibanya di Jakarta akan menceburkan diri di lapangan penerbitan. Armijn Pane mengasuh majalah Indonesia yang diisi 124 halaman sejak mulai Februari 1955 bersama-sama Mr. St. Moh. Syah, serta Boeyoeng Saleh. Armijn menulis “Produksi Film Narasi di Indonesia”, setebal 112 halaman dalam majalah Indonesia itu. Didalam dunia sandiwara ia menjadi anggota terpenting gabungan usaha sandiwara Jawa, di samping juga sebagai Ketua Muda “Angkatan Baru”, perkumpulan seniman di kantor kebudayaan itu.

Ia mengawali karirnya juga sebagai pengarang serta sastrawan saat ia jadi wartawan, serta juga sebagai guru pada Pendidikan Taman Siswa. Selain itu, tahun 1938 ia menjadi sekretaris Kongres Bahasa Indonesia yang pertama, ia juga jadi penganjur Balai Bahasa Indonesia serta di zaman Jepang ia menjadi anggota komosi istilah. Walau demikian, dalam saat menekuni tugasnya, baik di zaman Belanda, zaman Jepang, ataupun zaman republik Armijn senantiasa melihat beberapa hal yg tidak beres yang menusuk hati nuraninya.

Saat ia jadi Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan, atasannya, orang Jepang, tunjukkan majalah yang bersisi berita tantang dilancarkannya armada Jepang oleh armada Sekuti di sekitar Morotai. Lantaran Armijn seorang yang polos, jujur, serta tak pernah merubah kenyataan, dibuatnyalah laporan yang diberikan Jepang itu.

Oleh karena itu, ia mesti bertemu dengan kempetai hingga ia menanggung derita lahir serta batin gara-gara perlakukan kasar kempetai yang kemungkinan mau menguji ke mana Armijn memihak. Itulah salah satu pengalaman pahitnya yang mengakibatkan dirinya terkena pukulan batin terus-menerus dalam pekerjaannya. Hal tersebut disibakkannya pada pengantar novelnya, Belenggu sebagai berikut, “kalau kepercayaan telah jadi pohon beringin, rubuhlah semua pertimbangan yang lain.” Jadi, apa pun yang dihadapkan pada apa yang diyakininya yang telah kokoh itu tidak bakal menggoyahkannya. Dalam karya Belenggu, tekadnya jadi seorang manusia yang bermanfaat untuk bangsa serta negara seperti yang dianjurkan Armijn Pane dalam ceramahnya yang tercermin pada tokoh dr. Sukartono dalam novel Belenggu.

Dalam ceramah itu pengarang mengungkap pengalamannya yang terkait dengan kepenga-rangannya serta sedikit menyinggung soal angkatan. Butir-butir pikiran yang dikatakannya ketika itu yaitu (1) “Mengapa Saya Rela serta Ikhlas Jadi Pengarang”, (2) “Bagaimana Saya Memperbaharui Kerelaan and Keikhlasanku sebagai Pengarang di Zaman Sekarang ”, (3) “Sikap Hidup Bagi Pengarang”, (4) “Struktur Mengarang Fase-Fase Mengarang”, (5) “Pengarang Keagamaan dan Pengarang Nasional”, (6) “Apa yang Perlu Kita Dapat dari Pengarang-Pengarang Luar Negeri”, (7) “Apakah Pengarang Manurut Pendapat Pengarang”, (8) “Serba Sedikit Tentang Angkatan”. Dalam susunan karangan harus senantiasa ada tiga pihak, yakni yang dilawan, yang melawan, serta yang menggerakan.

Selain itu, pengarang mempunyai hati nurani, moral, serta ide, yakni ide yang dikendalikan pengarang, supaya pengarang senantiasa sadar bakal apa yang perlu dikerjakan. Dalam kesempatan itu Armijn juga mengharapkan agar diantara pengarang muda bakal nampak pengarang keagamaan Indonesia yang bisa dihargai. Dari uraian dalam ceramah itu, bisa diambil kesimpulan bahwa Armijn Pane, nyatanya samapai umur 62 tahun, pengamatan serta cintanya pada dunia sastra terus segar.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =