Profil & Biografi Putu Wijaya

Loading...

Putu Wijaya yang lebih dikenal juga sebagai sastrawan, memiliki nama yang cukup panjang, yakni I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu bisa diketahui bahwa ia datang dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara seayah ataupun dari tiga bersaudara seibu. Ayahnya I Gusti Ngurah Raka adalahseorang pensiunan punggawa yang keras dan tegas dalam mendidik anak.

Biografi Putu Wijaya

Putu Wijaya telah memperlihatkan kegemarannya pada dunia sastra telah terlihatsejak beliau masih remaja. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, beliau telah mulai menulis cerita-cerita pendek serta beberapa di antaranya dimuat di Harian Suluh Indonesia, Bali. Saat duduk di sekolah menengah atas, beliau memperluas wawasannya dengan mengikuti kegiatan sandiwara. Setelah menamatkan sekolah menengah atas, beliau meneruskan pendidikan di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Beliau meneruskan kuliah di fakultas hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Tidak hanya berkuliah di UGM, beliau juga mendalami seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama, serta film (Asdrafi) untuk meningkatkan kegiatan bersastranya. Beliau memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) di UGM pada tahun 1969. Beliau juga memperoleh jati diri sebagai seniman dalam kegiatan berkesenian. Tetapi beliau tidak berhasil dalam penulisan skripsi di Asdrafi.

Biografi Putu Wijaya 1

Selama bermukim di Yogyakarta, aktivitas sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel teater pimpinan W. S. Rendra dalam beberapa pementasan, diantaranya dalam pementasan Bip-Bop tahun 1968 serta Menanti Godot tahun 1969. Ia sempat juga tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga sudah berani tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi pada tahun 1969. Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diadakan oleh Badan Pembina teater Nasional Indonesia.

Biografi Putu Wijaya 2

Putu Wijaya telah menulis lebih kurang 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga sudah menulis skenario film serta sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak tahun 1971, serta sudah mementaskan puluhan lakon didalam ataupun diluar negeri. Puluhan penghargaan ia capai atas karya sastra serta skenario sinetron yang dihasilkannya.

Narasi pendek karangannya sering mengisi kolom pada Harian Kompas serta Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, serta Horison. Sebagai penulis skenario, ia sudah 2 x mendapatkan piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), serta Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi telah banyak buku yang dihasilkannya. Salah satunya, yang menjadi perbincangan yaitu Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, serta Nyali.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 6 =