Profil & Biografi Amir Hamzah

Loading...

Tengkoe Amir Hamzah, yang memiliki nama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, atau lebih dikenal dengan nama pena Amir Hamzah. Beliau lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, pada tanggal 28 bulan Februari tahun 1911. Nama Amir Hamzah didapatkan dari sang ayah karena kekagumannya pada Hikayat Amir Hamzah.

Biografi Amir Hamzah

Ayahanda Tengku Amir Hamzah bernama Tengku Muhammad Adil yang bergelar Datuk Paduka Raja. Tengku Muhammad Adil adalah Pangeran (Raja Muda dan Wakil Sultan) untuk Luhak Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai. Ayahanda Tengku Amir Hamzah memiliki garis kekerabatan dengan Sultan Machmud, penguasa Kesultanan Langkat yang memerintah pada tahun 1927 sampai 1941. Berdasar pada silsilah keluarga istana Kesultanan Langkat, Tengku Amir Hamzah merupakan generasi ke sepuluh dari Sultan Langkat. Garis keturunan itu menunjukkan bahwa ia adalah pewaris tahta salah satu kerajaan Melayu, ialah Kesultanan Langkat.

Di masa kecilnya Amir Hamzah telah hidup dalam situasi lingkungan yang menyukai sastra dan sejarah. Ia bersekolah di Langkatsche School (HIS) yang merupakan sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang dari Belanda. Selanjutnya sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar yang merupakan bekas bangunan istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat.

Biografi Amir Hamzah 1

Setamat HIS beliau melanjutkan studi ke MULO di Medan, tetapi tidak sampai selesai. Ia pindah ke MULO di Jakarta. Di Jawa perkembangan ke penyairannya semakin terbentuk. Terlebih sejak sekolah di Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, Amir menulis beberapa sajak-sajak pertamanya. Disini ia memperkaya diri dengan kebudayaan moderen, kebudayaan Jawa, serta kebudayaan Asia lainnya. Amir Hamzah adalah seorang siswa yang mempunyai kedisiplinan tinggi. Disiplin dan ketertiban itu terlihat dari situasi kamarnya. Semuanya serba beres, buku-bukunya rapi tersusun diatas rak, baju tak tergantung dimana-mana, serta sprei tempat tidurnya juga licin. Sama seperti kamar seorang gadis remaja.

Sekitar tahun 1930, pemuda Amir ikut serta dalam gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang rekan sekolahnya, Ilik Soendari. Bahkan sesudah Amir meneruskan studinya di sekolah hukum di Batavia (saat ini Jakarta) keduanya terus dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 saat Amir dipanggil kembali pada Sumatera untuk menikah dengan putri sultan serta mengambil tanggung jawab di lingkungan keraton. Walau tak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya.

Biografi Amir Hamzah 2

Amir Hamzah mulai menyiarkan sajak-sajak hasil karyanya saat masih tinggal di Solo. Di majalah Timboel yang diasuh Sanusi Pane, Amir Hamzah menyiarkan puisinya berjudul “Mabuk” dan “Sunyi” yang menandai kiprahnya didunia kesusastraan Indonesia. Selain itu, sajak-sajaknya juga dipublikasikan di rubrik sastra Panji Pustaka asuhan Sutan Takdir Alisyahbana. Tidak hanya menulis sajak, Amir Hamzah juga menulis prosa serta esai mengenai kesusastraan. Sajak-sajak yang dihasilkan Amir Hamzah cenderung terlihat lebih ke gaya sastra Timur.

Sejak dimuat di majalah Timboel, karya sastra Amir Hamzah selalu muncul di beragam media masa, seperti di majalah Pudjangga Baroe ataupun di majalah Pandji Poestaka. Nama Amir Hamzah mulai dikenal, dan lingkungan pergaulannya dengan kelompok sastrawan juga mulai berjalan intensif. Beberapa sastrawan yang semasa dengan Amir Hamzah diantaranya Armijn Pane, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Muhamaad Yamin, Suman Hs, JE. Tatengkeng, HB. Jassin, dan yang lain.

Mungkin pencapaian karya sastra Amir Hamzah bukanlah pencapaian paling baik dari satu kelompok yang mengutamakan diri dalam mencari dan menemukan semacam puitika yang lain seperti yang berlangsung di Barat. Tetapi, tidak bisa dihindarkan bahwa ada sejenis ikatan ataupun prinsip para pemrakarsa majalah Poedjangga Baroe yakni, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, serta Amir Hamzah sendiri untuk memajukan bahasa Indonesia. Penerbitan majalah Poedjangga Baroe sendiri juga sebagai perwujudan komitmennya akan hal itu.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + twenty =