Profil & Biografi Lin Dan

Loading...

Lin Dan adalah pemain bulutangkis profesional China. Dia adalah juara Olimpiade dua kali, juara dunia lima kali, serta juara enam kali All England. Secara luas dianggap sebagai pemain single terbesar sepanjang masa, dimana pada usia 28 tahun Lin telah menyelesaikan “Super Grand Slam”, setelah memenangkan semua sembilan gelar utama di dunia bulutangkis seperti Olimpiade, Dunia Kejuaraan, Piala Dunia, Piala Thomas, Piala Sudirman, Super Series Masters Finals, All England Open, Asian Games, dan Kejuaraan Asia, menjadi pemain pertama dan satu-satunya yang bisa meraih prestasi ini.

Biografi Lin Dan 1

Kehidupan Pribadi
Lin Dan lahir tanggal 14 Oktober 1983 dari keluarga Hakka di Kabupaten Shanghang, Longyan, Fujian. Di usia muda, Lin Dan didorong untuk belajar bermain piano oleh orang tuanya untuk menjadi seorang pianis. Namun, ia memilih bermain bulutangkis. Setelah memulai pelatihannya pada usia lima tahun, dia dipandu oleh People’s Liberation Army Sports Team setelah memenangkan Kejuaraan Junior Nasional, dan masuk dalam Tim Bulutangkis Nasional China pada tahun 2001, saat ia berusia 18 tahun.

Dalam kehidupan asmaranya, Lin Dan telah menjalin hubungan dengan Xie Xingfang, yang merupakan mantan juara dunia sejak tahun 2003. Mereka diam-diam bertunangan pada tanggal 13 Desember 2010 di Haizhu, Guangzhou. Keduanya menikah pada tanggal 23 September 2012 dan upacara pernikahan diadakan di Universitas Teknologi Beijing.

Badminton - Yonex All England Open Badminton Championships - Barclaycard Arena, Birmingham - 13/3/16 China's Lin Dan poses with the trophy after winning the men's singles final Action Images via Reuters / Andrew Boyers Livepic EDITORIAL USE ONLY.

Lin Dan memiliki lima tato yang terlihat selama Olimpiade Musim Panas 2012. Lengan kiri atas memiliki salib Kristen, lengan kirinya yang lebih rendah memiliki lima bintang, lengan kanan atasnya berbunyi “untul the end of world”, huruf “F” ganda di lengan kanan bawahnya, dan inisial “LD” di bagian belakang lehernya. Tato ini telah menjadi bahan kontroversi karena status militer dan religiusnya.

Pada tanggal 17 Oktober 2012, ia menjadi pemain bulutangkis China pertama yang aktif menerima gelar master di Universitas Huaqiao. [Otobiografinya, “Until the End of the World”, diterbitkan setelah dia berhasil mempertahankan gelar Olimpiade di Olimpiade London 2012.

Perjalanan Karir
Lin Dan memulai karirnya di dunia bulutangkis profesional pada tahun 2001, di mana untuk pertama kalinya ia berhasil menembus final di Kejuaraan Dunia Asia meski akhirnya dikalahkan oleh rekannya sendiri bernama Xia Xuanze. Kemudian untuk pertama kalinya ia juga meraih gelar pertamanya di Kejuaraan Korea Open pada tahun 2002.

Biografi Lin Dan 3

Pada tahun 2003, sepertinya Lin Dan masih meraba-raba kemenangan terbaik dengan gagal menang di Indonesia Open, Singapore Open dan Malaysia Open meski akhirnya memenangi juara di Hong Kong Open, Denmark Open dan kampung halamannya, China Open. Namun pembuktian yang terjadi baru terjadi setahun kemudian dengan berpartisipasi dengan tim China memenangkan Piala Thomas dan meraih gelar All England sehingga BWF juga menobatkan Lin Dan sebagai kemenangan dengan peringkat nomor 1 versi BWF. Setelah itu, ia mesti menelan pahit karena dikalahkan oleh Lee Chong Wei, sehingga dia harus rela menjadi nomor 2 BWF. Tapi di tahun 2012, ia mengambilnya kembali.

Seperti pemain kidal lainnya, pukulan Lin Dan agak sulit ditebak arahnya mungkin karena lawannya tidak terbiasa melawan pemain kidal. Tapi Lin Dan spesial. Sengatannya yang aneh tapi fasih dengan beragam spekulasi, ia bisa mengejutkan lawan-lawannya. Memiliki Smash yang keras dan tajam, pukulan tak terduga dalam overhead, drop shot halus dan permainan depan net yang sangat tipis akan menjadi senjata andalannya.

Selain mendapat keuntungan sebagai pemain kidal, Lin Dan juga dikenal sebagai pemain cerdas. Dalam bermain ia selalu menerapkan strategi yang berbeda pada masing-masing lawan. Terkadang ia bermain perlahan penuh dengan pukulan rally melawan pemain kelas ringan dan terkadang ia memainkan serangan penuh yang disambutnya dengan rentetan pukulan tajam di atas kepala yang sepertinya memaksa jika menghadapi musuh yang dianggapnya berat untuk dihadapinya. Semua itu belum disertakan dengan kekuatan pertahanannya yang luar biasa sehingga lawan bisa kehilangan akal.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × four =